Senyum dari Selatan Bandung

Senyum dari Selatan Bandung

Pekan lalu merupakah salah satu perjalanan yang luar biasa. Perjalanan yang mengingatkan saya dan tim pada memori beberapa bulan yang lalu saat kami mengunjungi tempat ini. Sebuah Pesantren Tahfidz yang terletak di Selatan Bandung. Waktu itu kami belum mengenal Covid-19 yang mungkin saat ini ia adalah paling terkenal di seluruh penjuru dunia.

Pesantren Tahfidz Al-Huda namanya. Sebuah pesantren sederhana di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Meski sederhana dalam pengelihatan mata, namun di tempat ini anak-anak di didik untuk dapat berpikir besar. Berpikir untuk menjadi seseorang penghafal Al-Quran yang selalu berikhtiar memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Walaupun dalam keadaan yang serba terbatas, apa yang mereka pikirkan boleh jadi jauh lah lebih mulia dibanding kita semua. Kita yang masih sangat egois dengan impian kecil kita masing-masing.

Waktu itu saya masih ingat anak-anak sangat lincah beraktivitas. Ada yang sedang bermain bola, ada yang sedang bercocok tanam, bahkan sebagian laginya ada yang sedang mamanjat pohon untuk dapat mengambil buah dari pohon tersebut.

Ketika waktu belajar tiba, segera mereka tinggalkan aktivitas bermain dan bergegas bersiap-siap untuk menuntut ilmu bersama. Karena ruang kelas yang belum tersedia bagi santri ikhwan, maka pembelajaran pun dilakukan terpusat di masjid. Namun dibalikĀ  itu semua, anak-anak tetaplah antusias untuk menimba ilmu.

Tak hanya itu, banyak dari santri di pesantren ini pun yang berstatus yatim dan dhuafa. Sehingga mereka dibebaskan dari segala biaya untuk dapat menimba ilmu di pesantren ini. Tak kurang dari 100 santri yang ada di pesantren ini. Itu lah salah satu yang membuatku kagum pada pesantren ini. Tak melihat santri dari latar belakang sosial seperti apa, asalkan memiliki keinginan untuk belajar, maka mereka akan terus diperjuangakan agar tetap mendapatan pendidikan terbaik dengan kehidupan yang layak.

Berbeda waktu, berbeda kondisi, dan berbeda pula keadaan serta situasi disana. Saat ini kegiatan anak-anak tak seriuh biasanya. Sedikit banyaknya wabah corona yang tengah melanda berdampak pula pada aktivitas di pesantren ini. Beberapa santri yang berstatus mampu pun diperbolehkan untuk pulang.

Namun, tak semua dari mereka dapat pulang dan kembali berkumpul bersama dengan keluarganya di rumah. Banyak diantara mereka yang tidak dapat pulang. Sebagian dari mereka yang tidak dapat pulang adalah santri perantau yang berasal dari daerah-daerah yang cukup jauh. Dimana memang saat ini pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk tidak berpergiaan antar daerah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sebagian lagi dari mereka yang tidak pulang merupakan santri yang tidak memiliki keluarga atau santri yang tidak mengetahui keberadaan keluarganya.

Sedih kami mendengarnya. Dimana dalam keadaan seperti ini sebagian dari mereka tidak dapat berkumpul dengan keluarganya di rumah. Namun, bagi mereka ini adalah bagian dari perjuangan mereka. Perjuangan untuk dapat menjadi para penghafal Al-Quran yang sejati.

Alhamdulillah pada saat itu kami masih dapat melihat senyum indah mereka. Betapa malunya hati ketika kita sering bermuka muram dan kurang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Berbeda dengan mereka yang tetap terlihat bahagia ditengah segala keterbatasannya.

Senyum yang hadir pun tak lepas dari peran kakak-kakak semua yang tak pernah berhenti mendukung gerakan kebaikan ini. Alhamdulillah kontribusi kakak telah menjadi jalan kebaikan dari Allah sehingga kami dapat menyalurkan 250 kg beras untuk adik-adik santri penghafal Al-Quran di pesantren ini.

 

Tetaplah menjadi orang baik yang hebat !

Ustadz Yasin

(Pimpinanan Pesantren Tahfidz Al-Huda)

Terimakasih ya kak šŸ™‚

Semoga Allah selalu melimpahkah rahmat dan melindungi kita semua. Aamiin…

Bagikan sekarang

Tinggalkan Balasan