Ingin Kembali Belajar

Ingin Kembali Belajar

Bismillaah..

Assalamu’alaikum Kak…

Sudah lebih dari 3 bulan nampaknya pembelajaran di MDT Muhammad Al-Fatih terdampak karena adanya wabah covid-19. Mungkin bagi sebagian orang pembelajaran daring dapat menjadi solusi pembelajaran yang efektif di masa pandemi ini. Mereka tetap bisa belajar dan berinteraksi dengan gurunya meski jarak memisahkan. Materi-materi yang diberikanpun dapat tersampaikan lewat penggunaan media interaktif yang dapat di akses melalui komputer dan gadget.

Tapi semua itu tak bisa dirasakan oleh seluruh santri di MDT Muhammad Al-Fatih. Hanya segelintir dari mereka yang memiliki fasilitas gadget. Dari sedikit santri yang memilki gadget pun tak semuanya memilki akses internet. Kita pahami sendiri bahwa untuk melakukan pembelajaran daring diperlukan kuota internet yang cukup besar.

Seperti yang kita tahu, mayoritas anak-anak yang bersekolah di MDT Muhammad Al-Fatih merupakan mereka yang berstatus dhuafa. Jangankan untuk membeli kuota internet untuk pembelajaran daring, dapat makan tiga kali sehari dengan lauk pauk yang bergizi pun sudah merupakan hal yang mewah bagi mereka.

Satu hal yang mebuatku salut pada mereka. Ditengah keterbatasan ini selalu ada saja cara mereka untuk tetap dapat belajar. Ada yang ikut dengan temannya yang memiliki gadget, bahkan ada yang datang langsung ke Rumah Bu Ai untuk sekedar meminta materi ataupun soal-soal latihan.

Mungkin itulah yang terjadi ketika ilmu telah menjadi candu yang merasuki jiwa. Bila dihari-hari normal mereka bertemu dan belajar bersama, maka ditengah pandemi ini mereka pun tetap berjuang dan tolong menolong agar mereka tetap dapat belajar :’)

Sebagai penutup, ingin rasanya sedikit menyampaikan betapa bahagianya mereka ketika dapat kembali berkumpul untuk sekedar sedikit mengulang hafalan bersama, berbagi canda dan senyum bersama, sembari menerima laporan hasil belajar mereka selama semester ini. Lebih lengkapnya bisa Kakak-Kakak lihat di IGTV @tevis_id ya😊

Terimakasih kak telah menjadi partner kolaborasi kebaikan untuk para Adik-Adik Asuh…

Semoga Allah segera mengagkat wabah penyakit ini agar kita dapat kembali beraktivitas dengan nyaman. Aamiin…

Masak Apa Nek Hari Ini?

Masak Apa Nek Hari Ini?

Hari ini (15/05/2020) Allah mengizinkan saya untuk ikut salah satu tim yang menyebar beras dan hidangan berbuka puasa untuk saudara kita yang yatim dan dhuafa. Sore hari, kami tiba di titik penyebaran terakhir hari ini, di daerah Cisanti, hulu sungai citarum. Hawa dingin begitu terasa di desa sederhana nan bersahaja ini.

Pkl 17.30 sekitar 15 menit sebelum adzan magrib berkumandang, sampailah kami di sebuah rumah sangat sederhana dari kayu. Seorang nenek tinggal bersama suaminya yang hanya bisa berbaring tak berdaya akibat penyakit yang entah apa, selama beberapa tahun ini. “Darimana Cep uangnya kalau mau periksa, jadi belum pernah Bapak diperiksa sakit apa?”
“Ibu hari ini shaum?”
“Alhamdulillah Shaum”

“Ibu udah masak?”
“Alhamdulillah Cep udah”

“Masak apa bu hari ini?”
“Ya seadanya aja Cep, yang ibu mampu”

Sengaja saya menengok ke dapur sang nenek, yang begitu sederhana, dengan kompor hawu. Di atas hawu, ada panci berisi air yang sedang dimasak. Juga ada sepiring nasi bekas di lantai dapur yang begitu sederhana itu, dengan sendok pertanda nasi bekas itu siap disantap. Yaa Allah, padahal adzan sebentar lagi berkumandang.

Saya pun kembali melihat wajah nenek yang kini menatap saya dengan teduhnya, mata yang kini begitu berkaca-kaca. Hampir-hampir air matanya tumpah ke pipi.

Yaa Allah, begitu girangnya nenek ketika kami memberikan paket rendang dan gulai untuk keluarga ini. Juga paket beras untuk keluarga Indonesia titipan engkau para sahabat tendavisi.

Terima kasih ya sahabat, atas izin Allah, Engkau telah membuat sepasang suami istri ini begitu bahagia. Kami menjadi saksi begitu gembiranya mereka, hingga doa-doa kebaikan untuk Engkau terus terucap dari lisan mereka.

Terima kasih ya sahabat, salam dan doa dari sang nenek untuk Engkau sekeluarga.

Friandha Insan Firdaus

Lindungi Diri dan Keluarga dari Wabah dengan Sedekah

Lindungi Diri dan Keluarga dari Wabah dengan Sedekah

Hari ini kita menghadapi pandemik, kondisi tingkat penyebaran penyakit tertinggi. Covid-19 begitu cepat menyebar dengan masif di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Seluruh provinsi di negeri ini tak ada yang luput dari serangan corona. Yaa Rabb.. Lebih dari 200 ribu orang dari seluruh dunia meninggal dunia terkena wabah ini. Maka tugas kita sebagai manusia hanya bisa terus berikhtiar untuk memutus rantai wabah ini. sambil terus memohon kepada ALLAH, agar pandemik ini segera berakhir.

Juga sebagai individu, kita wajib melindungi diri dan keluarga kita dari penyakit berbahaya ini. Orang tua dan saudara kita yang memiliki penyakit bawaan, begitu  rentan terhadap serangan covid ini. Menjadi kewajiban kita untuk berusaha sekuat tenaga, mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan, seperti menjaga jarak dengan orang lain, tidak keluar rumah jika tidak mendesak, istirahat, dan berolahraga teratur, serta menjaga imunitas tubuh.

Sebagai seorang Muslim, kita harus senantiasa memohon perlindungan kepada sebaik-baik pelindung kita, ALLAH Subahanhu wa ta’ala. Juga dengan sedekah, untuk melindungi diri kita dan keluarga dari wabah yang makin parah ini. Bukankan Rasulullah pernah bersabda, “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah” (Hadist Riwayat Imam Baihaqi).

Maka pastikan keluarga ktia mendapatkan asuransi terbaik dari Sang Pemberi Perlindungan, dengan sedekah. Sedekah dapat menolak 70 macam bencana dan yang paling ringan (di antara bencana itu) adalah wabah penyakit kusta dan lepra,” (HR. Thabrani)

Mari kita selamatkan diri dan keluarga kita, dengan sedekah. “Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Hadist Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kapan sedekah terbaik sebaiknya kita lakukan? Sekarang juga! Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada usia, mumpung ada rezeki, dan mumpung kita masih ada di bulan Ramadhan.

Anda bisa bersedekah sekarang juga melalui laman tendavisi.org/ramadhan. Program-program Ramadhan yang dikelola anak-anak muda, ada di laman tersebut. Anda bisa memilih program mana yang ingin Anda dukung. Berapapun jumlahnya, in sya Allah akan jadi kebaikan untuk kita dan keluarga.

Ayo lindungi diri kita dan keluarga dengan sedekah.

 

Belajar dari Takhari :)

Belajar dari Takhari :)

Mentari terbit dan perlahan hari pun mulai terang. Burung-burung mulai melebarkan sayap, pertanda mereka siap untuk terbang bebas dari sangkarnya menuju langit nan luas. Namun bagi kita, tak semua memilih untuk pergi. Sebagian memilih untuk menetap. Karena bukan tak mungkin, pergi justru hanya akan mendatangkan derita.

Kali ini kita benar-benar dihadang. Bukan oleh batu berukuran besar. Namun oleh makhluk kecil tak  kasatmata yang ganas menjangkit siapapun yang ditemuinya. Jika Allah telah berkehendak tak ada yang tak mungkin. Makhluk kecil pun dapat dibuat-Nya mengkocar-kacirkan kehidupan dari makhluk yang paling sempurna. Ampuni kami Ya Allah akan segala kesombongan kami…

 

Dua paragraf awal di atas adalah sebagian gambaran dari apa yang kita alami hari ini. Dimana banyak orang yang kehilangan waktu untuk dapat beraktivitas diluar rumah. Semenjak himbauan #DirumahAja disuarakan oleh pemerintah, banyak aktivitas sosial masyarakat diruang publik yang mulai berkurang. Setelah itu mulailah berimbas pada bidang-bidang penting lainnya. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Pada akhirnya, semua institusi pendidikan terpaksa harus melakukan pembelajaran online dari rumah bagi semua siswanya.

Pekan ini adalah pekan keempat pembelajaran dirumah diberlakukan. Dimana anak-anak tak lagi dapat belajar bersama-sama di sekolah. Tak lagi mereka dapat bercanda tawa dengan teman-temannya. Berangkat dan pulang sekolah bersama dengan membawa tas yang tampak lebih besar dibanding ukuran badan mereka :’)

Bagiku yang melihatnya saja hal ini sudah cukup membuatku merindu akan situasi itu. Lantas bagaimana dengan mereka? Adik-Adik dan Anak-Anak kita tentu sudah sangat rindu akan hal tersebut.

Awalnya mungkin mereka merasa gembira ketika diwajibkan untuk mengikuti pembelajaran dari rumahnya masing-masing. Hari kedua wajahnya masih tersenyum, begitu pula dengan hari-hari lainnya di pekan pertama. Pekan kedua wajahnya nampak tak seceria waktu-waktu yang lalu. Semakin lama justru berubah menjadi kejenuhan yang teramat seperti yang terjadi dihari ini. Begitupun dengan kita yang jenuh bekerja dari rumah beberapa pekan ini.

Namun kali ini aku benar-benar belajar. Belajar dari seorang anak kecil yang usianya tak lebih dari separuh usiaku namun punya cara sendiri untuk tetap bersemangat meski harus belajar dari rumah.

Takhari namanya. Anak yang duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar ini merupakan salah satu adik asuh di MDT Al-Fatih. Anak kecil yang satu ini memang luarbiasa. Jangan tanyakan soal disiplin dan kerapihan padanya, karena kita akan malu sendiri dibuatnya…

Takhari selalu mempersiapkan yang terbaik setiap kali pembelajaran online MDT Al-Fatih akan  dimulai. Sebelum pembelajaran dimulai ia selalu menyempatkan diri untuk mandi, berpakaian menggunakan seragam, dan tak lupa pula menggunakan bedak. Mungkin itulah salah satu cara agar suasana belajar di MDT Al-Fatih dapat ia rasakan meski dari rumahnya :’)

Alhamdulillah saat ini MDT Al-Fatih telah melakukan sistem pembelajaran online selama anjuran belajar dari rumah berlangsung, meski tak semua dapat mengikutinya. Keterbatasan perangkat menjadi faktor mengapa tak semua dapat mengikuti pembelajaran online ini.

“Kita belajar banyak dari Takhari. Belajar untuk disiplin, rapih, dan yang terpenting kita belajar bahwa suasana menyenangkan bisa kita hadirkan sendiri…”

Jadi jangan kalah sama Takhari yaa !

Kalau Takhari bisa tetap bahagia di rumahnya, kita pun pasti bisa !

Terimakasih Takhari 🙂

 

Tetap bahagia walau #DirumahAja 🙂

 

Semoga Allah selalu menghadirkan senyuman di wajah kita semua…

Aamiin Allahumma Aamiin.

Senyum dari Selatan Bandung

Senyum dari Selatan Bandung

Pekan lalu merupakah salah satu perjalanan yang luar biasa. Perjalanan yang mengingatkan saya dan tim pada memori beberapa bulan yang lalu saat kami mengunjungi tempat ini. Sebuah Pesantren Tahfidz yang terletak di Selatan Bandung. Waktu itu kami belum mengenal Covid-19 yang mungkin saat ini ia adalah paling terkenal di seluruh penjuru dunia.

Pesantren Tahfidz Al-Huda namanya. Sebuah pesantren sederhana di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Meski sederhana dalam pengelihatan mata, namun di tempat ini anak-anak di didik untuk dapat berpikir besar. Berpikir untuk menjadi seseorang penghafal Al-Quran yang selalu berikhtiar memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. Walaupun dalam keadaan yang serba terbatas, apa yang mereka pikirkan boleh jadi jauh lah lebih mulia dibanding kita semua. Kita yang masih sangat egois dengan impian kecil kita masing-masing.

Waktu itu saya masih ingat anak-anak sangat lincah beraktivitas. Ada yang sedang bermain bola, ada yang sedang bercocok tanam, bahkan sebagian laginya ada yang sedang mamanjat pohon untuk dapat mengambil buah dari pohon tersebut.

Ketika waktu belajar tiba, segera mereka tinggalkan aktivitas bermain dan bergegas bersiap-siap untuk menuntut ilmu bersama. Karena ruang kelas yang belum tersedia bagi santri ikhwan, maka pembelajaran pun dilakukan terpusat di masjid. Namun dibalik  itu semua, anak-anak tetaplah antusias untuk menimba ilmu.

Tak hanya itu, banyak dari santri di pesantren ini pun yang berstatus yatim dan dhuafa. Sehingga mereka dibebaskan dari segala biaya untuk dapat menimba ilmu di pesantren ini. Tak kurang dari 100 santri yang ada di pesantren ini. Itu lah salah satu yang membuatku kagum pada pesantren ini. Tak melihat santri dari latar belakang sosial seperti apa, asalkan memiliki keinginan untuk belajar, maka mereka akan terus diperjuangakan agar tetap mendapatan pendidikan terbaik dengan kehidupan yang layak.

Berbeda waktu, berbeda kondisi, dan berbeda pula keadaan serta situasi disana. Saat ini kegiatan anak-anak tak seriuh biasanya. Sedikit banyaknya wabah corona yang tengah melanda berdampak pula pada aktivitas di pesantren ini. Beberapa santri yang berstatus mampu pun diperbolehkan untuk pulang.

Namun, tak semua dari mereka dapat pulang dan kembali berkumpul bersama dengan keluarganya di rumah. Banyak diantara mereka yang tidak dapat pulang. Sebagian dari mereka yang tidak dapat pulang adalah santri perantau yang berasal dari daerah-daerah yang cukup jauh. Dimana memang saat ini pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk tidak berpergiaan antar daerah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sebagian lagi dari mereka yang tidak pulang merupakan santri yang tidak memiliki keluarga atau santri yang tidak mengetahui keberadaan keluarganya.

Sedih kami mendengarnya. Dimana dalam keadaan seperti ini sebagian dari mereka tidak dapat berkumpul dengan keluarganya di rumah. Namun, bagi mereka ini adalah bagian dari perjuangan mereka. Perjuangan untuk dapat menjadi para penghafal Al-Quran yang sejati.

Alhamdulillah pada saat itu kami masih dapat melihat senyum indah mereka. Betapa malunya hati ketika kita sering bermuka muram dan kurang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Berbeda dengan mereka yang tetap terlihat bahagia ditengah segala keterbatasannya.

Senyum yang hadir pun tak lepas dari peran kakak-kakak semua yang tak pernah berhenti mendukung gerakan kebaikan ini. Alhamdulillah kontribusi kakak telah menjadi jalan kebaikan dari Allah sehingga kami dapat menyalurkan 250 kg beras untuk adik-adik santri penghafal Al-Quran di pesantren ini.

 

Tetaplah menjadi orang baik yang hebat !

Ustadz Yasin

(Pimpinanan Pesantren Tahfidz Al-Huda)

Terimakasih ya kak 🙂

Semoga Allah selalu melimpahkah rahmat dan melindungi kita semua. Aamiin…

Ibu Tangguh Pejuang Keluarga

Ibu Tangguh Pejuang Keluarga

Bismillah, dengan mengharap Ridha Allah..
Ibu dengan senyum yang teduh ini sedang merasakan bahagia yang luar biasa. Sekarang Ia bisa menghidupi keluarganya dengan rasa bangga dan penuh semangat yang membara. Ibu dua anak ini telah lama mendambakan pekerjaan yang bisa membantu meningkatkan taraf hidup keluarga.

Ibu Elah namanya, salah satu Ibu tangguh yang terus berjuang demi menghidupi keluarganya. Ia adalah seorang Ibu dari Anak Asuh binaan Yayasan Tendavisi Indonesia. Di Desa Cicangkanggirang ini Ibu Elah beserta mayoritas warga lainnya berprofesi sebagai peraut rangka layangan. Dimana Ia menerima jasa untuk meraut rangka layangan dengan upah minim yang telah ditentukan.

Pekerjaan itu begitu memakan waktu yang tidak sebentar. Ibu Elah harus pandai dalam mengatur tugas rumah dengan beban pekerjaan. Ibu, biasa mengerjakan seharian, jumlah hasil pengerjaannya bisa sampai 1000 rangka layangan jika Ia giat dalam menekuninya. Setelah itu, Ibu Elah mendapatkan upah sebesar 15.000 rupiah untuk 1000 rangka layangan. Memang, bukan sebuah nominal yang besar dengan waktu pengerjaan yang luar biasa melelahkan.

Ibu Elah berjuang selama bertahun-tahun, Ia hidup dalam keterbatasan ekonomi yang mencekik keadaannya. Bukan tanpa sebab, suami yang menjadi tulang punggung keluarga, terbaring dalam sakit yang sudah lama. Suaminya hanya bisa terkujur di tempat tidur karena diabetes telah menggerogoti tubuhnya. Tangan dan kakinya sudah rapuh, sangat riskan jika sampai terjatuh.

Meski begitu, Ibu Elah tetap semangat dalam menjalani kehidupannya sebagai Ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Hingga akhirnya Ibu ini kami amanahi sebuah usaha untuk menopang kehidupan keluarganya agar bisa memenuhi kebutuhan kesehariannya. Gerobak Bervisi adalah sebuah program Yayasan Tendavisi Indonesia yang bertujuan untuk membantu mereka yang kesulitan dalam mencari pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kehidupan keluarga. Dalam program ini penerima manfaat diberikan dampingan selama 2-3 bulan agar mereka bisa memaksimalkan potensi usahanya. Sekarang ini Ibu Elah merintis usahanya dengan berjualan jajanan anak-anak.

Alhamdulillah, Jazakumullahu khayran kepada sahabat dermawan yang senantiasa mendukung program-program Yayasan Tendavisi Indonesia. Mudah-mudahan Allah memberikan pahala kebaikan untuk kita semua dan Allah melapangkan kita semua untuk selalu berada dijalan kebaikan. Aamiin
Teriring salam dari Bu Elah dan keluarga untuk sahabat tevis semua..

Barakallahu fiikum..

Kisah Relawan Aksi Bervisi

Kisah Relawan Aksi Bervisi

Bismillah..
Namaku Salsya Aisyah, seorang wanita pejuang pendidikan yang aktif mengajar dan berwirausaha. Belum lama ini, aku ditawari untuk bergabung dalam kerelawanan. Perasaan itu membuat kebahagiaan tersendiri dalam aksi kemanusiaan ini.

Disini aku mencoba keluar dari zona nyamanku. Berbanding terbalik dengan keseharianku, yang pastinya ini lebih menguras jiwa sosialku. Kenapa ? Karena tugasku kali ini langsung terjun ke lokasi bencana banjir. Jujur, ini baru pertama kali. Pengalaman inilah yang aku rasakan dalam aksi kerelawanan di Tevis. Ya, saat musibah banjir tiba di Kab. Bandung. Lebih tepatnya Desa Parunghalang yang setiap tahunnya selalu mendapatkan kiriman air yang melimpah ruah ke pemukiman kampung disana.

Perasaan haru mulai menyelimuti hati ini saat menginjak pertama kali di Desa tersebut. Ternyata masih banyak orang yang membutuhkan pangkuan-pangkuan tangan kita. Masih banyak perut yang meraung menahan rasa lapar dan dahaganya. Disana ada ratusan lebih rumah yang terendam air berwarna kecoklatan. Yang hingga akhirnya banyak warga juga yang memilih untuk mengungsi di posko pengungsian setempat. Alhamdulillah atas izin Allah pada saat kesana, banjir telah surut dengan cepat. Saat ditemui, warga sedang sibuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang berdiam di tiap-tiap rumah.

Mushala dan jalan pun tak lupa mereka bersihkan meski dengan alat seadanya. Ada juga satu rumah yang masih merasakan dampak pasca banjir surut. Pemilik rumah itu biasa dipanggil ‘Bah Parman’. Seorang lelaki yang sudah tua yang rumahnya menjolok ke bawa. Alhasil, mengundang air mudah masuk ke dalam rumah. Saat rumah lain sedang dibersihkan karena sisa-sisa lumpur. Bah Parman masih bergelut dengan air yang tertampung dirumahnya. Ia mengungsi di sebuah loteng yang cara masuknya menggunakan tangga kayu yang lusuh hampir rapuh. Namun, kebahagiaannya tetap terpancar saat diberikan sebungkus bingkisan makanan untuk Bah Parman.

Lalu pada saat Tim Relawan datang untuk memberikan makanan dan obat obatan kepada masyarakat, Maa syaa Allah masyarakatnya sangat sangat antusias dan sangat bahagia pada saat dibagikan sedikit makanan..
Oh yaaa kondisi rumahnya pun ada yang sangat layak untuk di tempati tapi gak sedikit juga rumah rumah yang mungkin untuk kita yang melihatnya akan mengatakan “ini sangat tidak layak untuk di tempati” betapa sangat mengkhawatirkan untuk warga-warga di kampung parunghalang RT08/RW01, Kel. Andir, Kec. Baleendah, Kab. Bandung.

Saya berharap juga, agar pihak pemerintahan dapat melirik nasib para warga yang harus berjuang melawan banjir setiap musim penghujan datang. Bagi teman-teman yang belum bisa terjun langsung, in syaa Allah masih bisa membantu mereka saudara-saudara kita yang membutuhkan dengan mendukung setiap program Yayasan Tendavisi Indonesia, baik program kemanusiaan, sosial ataupun pendidikan. In syaa Allah akan menjadi jalan kebaikan dan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Aamiin Allahumma Aamiin.
Jazakumullahu khayran kepada para pembaca.

Salam Relawan,
Yayasan Tendavisi Indonesia
Berkarya-Berbagi-Menginspirasi

Kisah Cinta Relawan

Kisah Cinta Relawan

Bismillah…

Perkenalan namaku Riana Damayanti Fauziah, usiaku 23 tahun  kegiatan sehari-hari bekerja dan kuliah. Seorang mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan S1 jurusan Pendidikan Masyarakat.

.

Berbicara tentang “Relawan” bisa disebut kisahku berawal dari Tendavisi Indonesia. Disini aku menemukan cinta, kasih sayang, rasa sosial dan kepedulian yang begitu tinggi terhadap saudara-saudaranya. Pertama bergabung disini kurang lebih 4 tahun lalu tak sedikitpun mereka menganggapku orang asing mereka menyambut dengan kehangatan, kehangatan itu ku beri nama “CINTA”.

 

Cinta seorang muslim terhadap saudaranya, cinta yang mempersatukan berbagai kepala dengan segudang ide-ide, kreativitas, dan pengorbanan mereka untuk umat. Satu hal yang membuatku takjub adalah tujuan mereka yaitu hanya ingin meraih ridho Allah Subhanahu wata’ala dan kelak berkumpul di Syurga Firdaus-Nya.

Alhamdulillah Allah mentakdirkanku bertemu dengan orang-orang hebat ini.

 

Relawan?  Rasanya aku tak pantas dipanggil seorang “Relawan” karena masih banyak kekurangan dan masih sedikit hal yang aku lakukan. Tapi itu tak akan menggoyahkan untuk tetap berbagi cerita yang tak akan kusimpan sendiri.Kenapa?? Karena berharap teman-teman juga mau ikut ambil peran untuk kebahagiaan saudara-saudara kita dan merasakan kebahagiannya.

 

Berawal dari menjadi panitia event-event yang diadakan oleh Tendavisi Indonesia yang mengajarkanku arti sebuah kebersamaan dan tanggung jawab. Kemudian ikut blusukan ke pelosok-pelosok di beberapa daerah mendisrtribusikan program-progmam Tendavisi Indonesia yang jalannya luar biasa curam bahkan hanya bisa dilalui oleh satu mobil sehingga kendaraan yang lain harus menunggu dan saling bergantian.

Menurutku itu seruuuu, seru sekali karena bisa bertemu keluarga-keluarga baru yang begitu ramah dan memperpanjang silaturahim. Lalu satu hal yang paling menggetarkan hati setiap melakukan perjalanan ini adalah ketika melihat senyuman indah yang lahir dari rasa syukur yang begitu luar biasa, meski terkadang yg kita salurkan tak begitu banyak dan bernilai.

 

Ada rasa yang tertinggal disini, rasa yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata.Aku berharap  kalian juga akan merasakan hal yang sama.

lalu sampai kapan hanya diam???

Tak adakah rasa sedikitpun yang mengusik hatimu??

Ayolahhh kawan…

 

Teman-teman tahu anak-anak yg berada di hadapan dan dibelakangku ini?? Iya mereka adalah anak-anak hebat dengan berjuta-juta kelebihannya. Ada sinar harapan yang berbinar dari matanya, ada senyuman kebahagian yang terlahir dari bibir lembutnya.

Mereka adalah generasi penerus bangsa, perubah peradaban dunia.

Aku Linda, Bangga Menjadi Relawan

Aku Linda, Bangga Menjadi Relawan

Bismillah..
Saya Linda, Saya seorang mahasiswi yang senang masak dan juga menulis. Sebuah tantangan saat menjadi seorang relawan kemanusiaan yang tak Saya dapatkan dalam kegiatan lain.

Beberapa daerah di Kabupaten Bandung itu setiap tahunnya terkena dampak musibah Banjir saat memasuki musim penghujan. Seperti halnya yang dirasakan Kampung Parunghalang yang saya jamahi langsung ke lapangan.

Qodarullah Saya diberi kesempatan untuk bisa mengunjungi sebuah tempat yang terkena musibah banjir. Ahamdulillah di tempat itu ada banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Salah satunya adalah bersyukur, karena masih diberikan nikmat keselamatan yang tak ternilai. Keadaan disana membuat saya berpikir bahwa aksi kemanusiaan itu sangat-sangat diperlukan, tidak melulu oleh sebuah komunitas saja, tapi aksi kemanusiaan pun bisa dimulai oleh diri sendiri untuk hal-hal yang ada disekitar bahkan didepan mata kita.

Tidak ada alasan untuk tidak membantu mereka. Meski musibah ini kerap terjadi setiap tahunnya, tetapi mereka yang menjadi korban banjir tak henti-hentinya membutuhkan uluran tangan kita yang diberi kenikmatan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Bahu-membahu saling menolong itu yang utama, terlebih ketika ada musibah yang menimpa kita. Saya tersadarkan, ketika memiliki harta yang lebih, kenapa tidak kita bantu mereka yang membutuhkan? Ketika kita sehat, kenapa tidak kita bantu mereka dengan tenaga kita? Dengan mengunjungi tempat itu, menambah pengalaman saya, menambah kesadaran diri Saya akan rasa kemanusiaan.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau mengingatkan Saya untuk bisa ikut aksi kegiatan sosial yang penuh dengan hikmah ini. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dan dalam ridho-Nya.. Jazakumullah khayran katsiran.. 🤲🏻

Mudah-mudahan Allah menjadikan musibah ini bukan membuat kita lebih lalai dalam kesibukan di dunia, tetapi menjadikan semua ini adalah teguran untuk kita agar lebih dekat lagi kepada Allah Azza wa jalla. Aamiin

Yuk mari bergandengan tangan untuk lebih peduli terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Percayalah, sekeras apapun masalahnya, pasti akan lebih ringan jika berjalan beriringan 🙂

Salam Kemanusiaan,
Relawan Tendavisi Indonesia
Berkarya-Berbagi-Menginspirasi

Aku Dan Anak Yatim

Aku Dan Anak Yatim

Perkenalkan namaku Luthfiana, 22 Tahun kurang 22 hari, seorang anak gadis dengan sejuta kesibukan dan sejuta cerita di hiruk pikuk kota bandung.

Berawal dari semua mimpiku sejak kecil, ingin menjadi seorang relawan, yang ku tahu hanyalah rela, rela melepaskan waktu, harta, tenaga, pikiran dan cinta. Secarik kertas berisi mimpi-mimpiku, perlahan satu persatu hanya kuanggap sekedar tulisan, bukan lagi tujuan. Dengan keterbatasan fisik, dan kemampuanku yang tak memungkinkan untuk turun menjadi relawan,  Sejak saat itulah aku mulai berlari dan terbang melayang tanpa henti mengejar  mimpi sebagai relawan dengan cara yang lain. Diawali dengan niat yg lurus karena Allah, dengan segala keterbatasan waktu, tenaga dan harta saat itu, maha besar Allah yang tidak pernah menempatkan aku dalam kondisi keterbatasan cinta.

 

Esoknya kutatap wajah salah satu anak yatim binaan Yayasan Tenda Visi, Diki namanya. sekilas tak ada yang berbeda dengan anak lainnya. Dia bermain, belajar, dan  tertawa seperti anak lainnya diluar sana. Ia memiliki cita-cita, keinginan, harapan di masa depan, sama sepertiku dulu. Namun terkadang iya berbalik bertanya pada dirinya sendiri “emangnya bisa?”

 

‘Mamih’ adalah hadiah pertama yang dia berikan untukku, sebuah panggilan sayang yang membuat aku luluh setiap kali mendengarnya.

“Ibu aku ga ada, ayah aku udah meninggal. Aku kalo ada apa-apa harus kesiapa ? “gapapa sayang, kan ada Allah yang selalu nemenin Diki” ku usap air matanya yang dari tadi sudah tumpah, beberapakali aku mencoba membalas keluh kesah dan keinginan Diki dengan kalimat yang bisa membuat iya bergantung pada Allah, bukan padaku, “tapi dari mana? Siapa yang mau nemenin aku? bantuin aku? tolongin aku? ga ada yang sayang sama aku, siapa yang sayang sama aku?” detik itu tak ku usap air matanya, karna air mataku lebih dulu jatuh sebelum ia menyelasaikan pertanyaannya. Hatiku menjerit, jangtungku berdebar. Suara anak yatim ini yang pertama kali mendobrak hatiku dengan kasar tanpa ampun.

 

Sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Semua kebutuhan dan keinginannya sama seperti waktu aku kecil dulu. Lalu siapa? Siapa? Siapa? Siapa yang Allah putuskan menjadi jalan Allah untuk merawat diki? Untuk memenuhi semuakebutuhan Diki. Yaa Allah, betapa bersyukurnya aku yang telah engkau siapkan orang tua dan saudara lengkap dengan harta yang cukup dan cinta yang berlebih.

 

Detik itu pula aku memohon kepada Allah untuk menetapkan hatiku dalam keistiqomahan, untuk menahanku agar tidak terbang mencari tempat singgah lain.

Allah memberikan kekuatan dan keberanian padaku untuk mengambil sebuah keputusan terbesar yang pernah aku buat. Sejak saat itu semua perioritas dalam hidupku berubah, segala kebijakan yang akan aku jalani selalu mempertimbangkan diki, makannya, sekolahnya, tidurnya, masa depannya, termasuk kebutuhan perasaannya.

 

Jika dulu saat aku seusianya, aku menggantungkan semua kebutuhanku pada Allah kemudian orang tua terutama ayah yang selalu mengorbankan hartanya untukku. Lalu pada Allah kemudian pada siapa Diki menggantungkan semua itu?

Ada kebutuhan yang ia perlukan meski ia tidak meminta

Ada keinginginan yang ia harapkan meski ia tidak mengatakan

Ada cinta yang ia rindukan meski ia terlihat tegar

 

Sejak Allah tetapkan hatiku untuk berkomitmen membersamai Diki hingga ia dewasa. Memiliki seorang anak yang sangat aku cintai meskipun aku belum menikah, tapi ia terlahir dari rasa cinta yang Allah genangkan dalam hatiku yang aku yakini Allah tak akan pernah menyurutkan sedikitpun. Aku percaya Allah akan pertemukan kami di syurga, mungkin saja ia yang akan menolongku di hari akhir nanti. Siapa yang tau? Siapa yang tau? Siapa yang tau betapa dahsyatnya do’a dari seorang anak yatim.

 

Sejak saat itu pula Allah mudahkan semua urusanku, beberapakali aku terkena musibah, namun Allah dengan cepat memulihkan keadaan setelah aku bercerita dengan Diki, harta yang aku keluarkan untuknya justru kembali lagi padaku dengan jumlah yanng lebih besar dari jalan yang berbeda. Ketenangan itu selalu aku rasakan setiap aku mengingat Allah kemudian diki. Mungkin saja do’a yang ia panjatkan sebelum tidur, terselip namaku. Karna itu menjadi bingkisan terindah yang selalu aku dapatkan disaat aku sempit dan terjatuh.