Belajar dari Takhari :)

Belajar dari Takhari :)

Mentari terbit dan perlahan hari pun mulai terang. Burung-burung mulai melebarkan sayap, pertanda mereka siap untuk terbang bebas dari sangkarnya menuju langit nan luas. Namun bagi kita, tak semua memilih untuk pergi. Sebagian memilih untuk menetap. Karena bukan tak mungkin, pergi justru hanya akan mendatangkan derita.

Kali ini kita benar-benar dihadang. Bukan oleh batu berukuran besar. Namun oleh makhluk kecil tak  kasatmata yang ganas menjangkit siapapun yang ditemuinya. Jika Allah telah berkehendak tak ada yang tak mungkin. Makhluk kecil pun dapat dibuat-Nya mengkocar-kacirkan kehidupan dari makhluk yang paling sempurna. Ampuni kami Ya Allah akan segala kesombongan kami…

 

Dua paragraf awal di atas adalah sebagian gambaran dari apa yang kita alami hari ini. Dimana banyak orang yang kehilangan waktu untuk dapat beraktivitas diluar rumah. Semenjak himbauan #DirumahAja disuarakan oleh pemerintah, banyak aktivitas sosial masyarakat diruang publik yang mulai berkurang. Setelah itu mulailah berimbas pada bidang-bidang penting lainnya. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Pada akhirnya, semua institusi pendidikan terpaksa harus melakukan pembelajaran online dari rumah bagi semua siswanya.

Pekan ini adalah pekan keempat pembelajaran dirumah diberlakukan. Dimana anak-anak tak lagi dapat belajar bersama-sama di sekolah. Tak lagi mereka dapat bercanda tawa dengan teman-temannya. Berangkat dan pulang sekolah bersama dengan membawa tas yang tampak lebih besar dibanding ukuran badan mereka :’)

Bagiku yang melihatnya saja hal ini sudah cukup membuatku merindu akan situasi itu. Lantas bagaimana dengan mereka? Adik-Adik dan Anak-Anak kita tentu sudah sangat rindu akan hal tersebut.

Awalnya mungkin mereka merasa gembira ketika diwajibkan untuk mengikuti pembelajaran dari rumahnya masing-masing. Hari kedua wajahnya masih tersenyum, begitu pula dengan hari-hari lainnya di pekan pertama. Pekan kedua wajahnya nampak tak seceria waktu-waktu yang lalu. Semakin lama justru berubah menjadi kejenuhan yang teramat seperti yang terjadi dihari ini. Begitupun dengan kita yang jenuh bekerja dari rumah beberapa pekan ini.

Namun kali ini aku benar-benar belajar. Belajar dari seorang anak kecil yang usianya tak lebih dari separuh usiaku namun punya cara sendiri untuk tetap bersemangat meski harus belajar dari rumah.

Takhari namanya. Anak yang duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar ini merupakan salah satu adik asuh di MDT Al-Fatih. Anak kecil yang satu ini memang luarbiasa. Jangan tanyakan soal disiplin dan kerapihan padanya, karena kita akan malu sendiri dibuatnya…

Takhari selalu mempersiapkan yang terbaik setiap kali pembelajaran online MDT Al-Fatih akan  dimulai. Sebelum pembelajaran dimulai ia selalu menyempatkan diri untuk mandi, berpakaian menggunakan seragam, dan tak lupa pula menggunakan bedak. Mungkin itulah salah satu cara agar suasana belajar di MDT Al-Fatih dapat ia rasakan meski dari rumahnya :’)

Alhamdulillah saat ini MDT Al-Fatih telah melakukan sistem pembelajaran online selama anjuran belajar dari rumah berlangsung, meski tak semua dapat mengikutinya. Keterbatasan perangkat menjadi faktor mengapa tak semua dapat mengikuti pembelajaran online ini.

“Kita belajar banyak dari Takhari. Belajar untuk disiplin, rapih, dan yang terpenting kita belajar bahwa suasana menyenangkan bisa kita hadirkan sendiri…”

Jadi jangan kalah sama Takhari yaa !

Kalau Takhari bisa tetap bahagia di rumahnya, kita pun pasti bisa !

Terimakasih Takhari 🙂

 

Tetap bahagia walau #DirumahAja 🙂

 

Semoga Allah selalu menghadirkan senyuman di wajah kita semua…

Aamiin Allahumma Aamiin.

Bagikan sekarang

Tinggalkan Balasan