Aku Dan Anak Yatim

Aku Dan Anak Yatim

Perkenalkan namaku Luthfiana, 22 Tahun kurang 22 hari, seorang anak gadis dengan sejuta kesibukan dan sejuta cerita di hiruk pikuk kota bandung.

Berawal dari semua mimpiku sejak kecil, ingin menjadi seorang relawan, yang ku tahu hanyalah rela, rela melepaskan waktu, harta, tenaga, pikiran dan cinta. Secarik kertas berisi mimpi-mimpiku, perlahan satu persatu hanya kuanggap sekedar tulisan, bukan lagi tujuan. Dengan keterbatasan fisik, dan kemampuanku yang tak memungkinkan untuk turun menjadi relawan,  Sejak saat itulah aku mulai berlari dan terbang melayang tanpa henti mengejar  mimpi sebagai relawan dengan cara yang lain. Diawali dengan niat yg lurus karena Allah, dengan segala keterbatasan waktu, tenaga dan harta saat itu, maha besar Allah yang tidak pernah menempatkan aku dalam kondisi keterbatasan cinta.

 

Esoknya kutatap wajah salah satu anak yatim binaan Yayasan Tenda Visi, Diki namanya. sekilas tak ada yang berbeda dengan anak lainnya. Dia bermain, belajar, dan  tertawa seperti anak lainnya diluar sana. Ia memiliki cita-cita, keinginan, harapan di masa depan, sama sepertiku dulu. Namun terkadang iya berbalik bertanya pada dirinya sendiri “emangnya bisa?”

 

‘Mamih’ adalah hadiah pertama yang dia berikan untukku, sebuah panggilan sayang yang membuat aku luluh setiap kali mendengarnya.

“Ibu aku ga ada, ayah aku udah meninggal. Aku kalo ada apa-apa harus kesiapa ? “gapapa sayang, kan ada Allah yang selalu nemenin Diki” ku usap air matanya yang dari tadi sudah tumpah, beberapakali aku mencoba membalas keluh kesah dan keinginan Diki dengan kalimat yang bisa membuat iya bergantung pada Allah, bukan padaku, “tapi dari mana? Siapa yang mau nemenin aku? bantuin aku? tolongin aku? ga ada yang sayang sama aku, siapa yang sayang sama aku?” detik itu tak ku usap air matanya, karna air mataku lebih dulu jatuh sebelum ia menyelasaikan pertanyaannya. Hatiku menjerit, jangtungku berdebar. Suara anak yatim ini yang pertama kali mendobrak hatiku dengan kasar tanpa ampun.

 

Sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Semua kebutuhan dan keinginannya sama seperti waktu aku kecil dulu. Lalu siapa? Siapa? Siapa? Siapa yang Allah putuskan menjadi jalan Allah untuk merawat diki? Untuk memenuhi semuakebutuhan Diki. Yaa Allah, betapa bersyukurnya aku yang telah engkau siapkan orang tua dan saudara lengkap dengan harta yang cukup dan cinta yang berlebih.

 

Detik itu pula aku memohon kepada Allah untuk menetapkan hatiku dalam keistiqomahan, untuk menahanku agar tidak terbang mencari tempat singgah lain.

Allah memberikan kekuatan dan keberanian padaku untuk mengambil sebuah keputusan terbesar yang pernah aku buat. Sejak saat itu semua perioritas dalam hidupku berubah, segala kebijakan yang akan aku jalani selalu mempertimbangkan diki, makannya, sekolahnya, tidurnya, masa depannya, termasuk kebutuhan perasaannya.

 

Jika dulu saat aku seusianya, aku menggantungkan semua kebutuhanku pada Allah kemudian orang tua terutama ayah yang selalu mengorbankan hartanya untukku. Lalu pada Allah kemudian pada siapa Diki menggantungkan semua itu?

Ada kebutuhan yang ia perlukan meski ia tidak meminta

Ada keinginginan yang ia harapkan meski ia tidak mengatakan

Ada cinta yang ia rindukan meski ia terlihat tegar

 

Sejak Allah tetapkan hatiku untuk berkomitmen membersamai Diki hingga ia dewasa. Memiliki seorang anak yang sangat aku cintai meskipun aku belum menikah, tapi ia terlahir dari rasa cinta yang Allah genangkan dalam hatiku yang aku yakini Allah tak akan pernah menyurutkan sedikitpun. Aku percaya Allah akan pertemukan kami di syurga, mungkin saja ia yang akan menolongku di hari akhir nanti. Siapa yang tau? Siapa yang tau? Siapa yang tau betapa dahsyatnya do’a dari seorang anak yatim.

 

Sejak saat itu pula Allah mudahkan semua urusanku, beberapakali aku terkena musibah, namun Allah dengan cepat memulihkan keadaan setelah aku bercerita dengan Diki, harta yang aku keluarkan untuknya justru kembali lagi padaku dengan jumlah yanng lebih besar dari jalan yang berbeda. Ketenangan itu selalu aku rasakan setiap aku mengingat Allah kemudian diki. Mungkin saja do’a yang ia panjatkan sebelum tidur, terselip namaku. Karna itu menjadi bingkisan terindah yang selalu aku dapatkan disaat aku sempit dan terjatuh.

 

 

 

Bagikan sekarang

Tinggalkan Balasan