Kisah Acep, Perjuangan Hidup Seorang Anak Tanpa Ibu

Kisah Acep, Perjuangan Hidup Seorang Anak Tanpa Ibu

Pada hari Rabu, hari pertama di tahun 2020 kemarin, di saat mayoritas orang-orang sedang menikmati liburan tahun barunya, Alhamdulillah tim tevis mendapatkan amanah dan kesempatan untuk bersilaturahim serta menemui langsung salah satu adik kami yang cukup istimewa. Ia adalah salah satu santri di Madrasah Sore yang berada di kawasan CIpancur, Sipatahunan, Kab. Bandung.

 

Kami mengenalnya melalui salahsatu tokoh masyarakat di kampung tersebut, sepenggal kisahnya yang luar biasa cukup membuat kami merasa terharu dan tersentuh, ingin segera menemuinya secara langsung.

 

Acep, 12 tahun. Kini ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Nama aslinya adalah Asep Saepulah. Qadarullah, Acep tidak pernah bertemu dengan ibunya karena beliau telah meninggal ketika melahirkannya. Setelah Ibunya meninggal, Acep dibesarkan oleh ayah dan neneknya dengan kondisi yang sangat terbatas. Menurut kabar yang kami dengar, para tetangga seringkali merasa iba ketika suara tangis bayi terdengar dari rumah yang teramat sederhana itu. Seorang bayi mungil yang dibesarkan tanpa ibu, bahkan tanpa susu formula. Bayi kecil itu, hanya diberi minum air tajin dan teh manis, kondisi perekonomian keluarga yang tak baik, memaksa ayah dan neneknya harus tega berbuat demikian.

 

 

Ayah acep adalah pekerja serabutan. Beliau kerapkali tidur di ladang atau kebun milik orang lain yang tengah memperkerjakannya, hidup nomaden dari saung ke saung untuk beristirahat. Hal inilah yang membuat Acep tak bisa ikut bersamanya. Alhamdulillah, selama ini Acep tidur bersama neneknya dan terkadang bersama tetangga yang memliki belas kasih terhadapnya, termasuk untuk uang jajan, Acep seringkali hanya berdiam diri ketika teman-teman sebayanya memburu pedagang yang datang, jika bukan ada tetangga yang berkenan membagi rizkinya, dia pun tak punya uang jajan.

 

 

Kondisi yang dialami acep sangat berat, sangat terlihat dari tatapan Acep ketika kami bertemu kemarin. Tatapannya kosong, tak seceria anak-anak yang lain. Hati kami teramat pilu, membayangkan betapa berat hidup yang ia jalani selama ini. ingin sekali kami berbagi kebahagiaan dengannya, melukiskan senyum agar ia bisa seceria teman-temannya yang lain, mengisi tatapannya yang kosong menjadi penuh harapan, sehingga ia bisa menjadi salah satu anak bangsa yang penuh semangat menjalani kehidupan.

 

Adakah kalian pun membersamai keinginan kami?

 

 

Bagikan sekarang

Tinggalkan Balasan