Kisah Cinta Relawan

Kisah Cinta Relawan

Bismillah…

Perkenalan namaku Riana Damayanti Fauziah, usiaku 23 tahun  kegiatan sehari-hari bekerja dan kuliah. Seorang mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan S1 jurusan Pendidikan Masyarakat.

.

Berbicara tentang “Relawan” bisa disebut kisahku berawal dari Tendavisi Indonesia. Disini aku menemukan cinta, kasih sayang, rasa sosial dan kepedulian yang begitu tinggi terhadap saudara-saudaranya. Pertama bergabung disini kurang lebih 4 tahun lalu tak sedikitpun mereka menganggapku orang asing mereka menyambut dengan kehangatan, kehangatan itu ku beri nama “CINTA”.

 

Cinta seorang muslim terhadap saudaranya, cinta yang mempersatukan berbagai kepala dengan segudang ide-ide, kreativitas, dan pengorbanan mereka untuk umat. Satu hal yang membuatku takjub adalah tujuan mereka yaitu hanya ingin meraih ridho Allah Subhanahu wata’ala dan kelak berkumpul di Syurga Firdaus-Nya.

Alhamdulillah Allah mentakdirkanku bertemu dengan orang-orang hebat ini.

 

Relawan?  Rasanya aku tak pantas dipanggil seorang “Relawan” karena masih banyak kekurangan dan masih sedikit hal yang aku lakukan. Tapi itu tak akan menggoyahkan untuk tetap berbagi cerita yang tak akan kusimpan sendiri.Kenapa?? Karena berharap teman-teman juga mau ikut ambil peran untuk kebahagiaan saudara-saudara kita dan merasakan kebahagiannya.

 

Berawal dari menjadi panitia event-event yang diadakan oleh Tendavisi Indonesia yang mengajarkanku arti sebuah kebersamaan dan tanggung jawab. Kemudian ikut blusukan ke pelosok-pelosok di beberapa daerah mendisrtribusikan program-progmam Tendavisi Indonesia yang jalannya luar biasa curam bahkan hanya bisa dilalui oleh satu mobil sehingga kendaraan yang lain harus menunggu dan saling bergantian.

Menurutku itu seruuuu, seru sekali karena bisa bertemu keluarga-keluarga baru yang begitu ramah dan memperpanjang silaturahim. Lalu satu hal yang paling menggetarkan hati setiap melakukan perjalanan ini adalah ketika melihat senyuman indah yang lahir dari rasa syukur yang begitu luar biasa, meski terkadang yg kita salurkan tak begitu banyak dan bernilai.

 

Ada rasa yang tertinggal disini, rasa yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata.Aku berharap  kalian juga akan merasakan hal yang sama.

lalu sampai kapan hanya diam???

Tak adakah rasa sedikitpun yang mengusik hatimu??

Ayolahhh kawan…

 

Teman-teman tahu anak-anak yg berada di hadapan dan dibelakangku ini?? Iya mereka adalah anak-anak hebat dengan berjuta-juta kelebihannya. Ada sinar harapan yang berbinar dari matanya, ada senyuman kebahagian yang terlahir dari bibir lembutnya.

Mereka adalah generasi penerus bangsa, perubah peradaban dunia.

Aku Linda, Bangga Menjadi Relawan

Aku Linda, Bangga Menjadi Relawan

Bismillah..
Saya Linda, Saya seorang mahasiswi yang senang masak dan juga menulis. Sebuah tantangan saat menjadi seorang relawan kemanusiaan yang tak Saya dapatkan dalam kegiatan lain.

Beberapa daerah di Kabupaten Bandung itu setiap tahunnya terkena dampak musibah Banjir saat memasuki musim penghujan. Seperti halnya yang dirasakan Kampung Parunghalang yang saya jamahi langsung ke lapangan.

Qodarullah Saya diberi kesempatan untuk bisa mengunjungi sebuah tempat yang terkena musibah banjir. Ahamdulillah di tempat itu ada banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Salah satunya adalah bersyukur, karena masih diberikan nikmat keselamatan yang tak ternilai. Keadaan disana membuat saya berpikir bahwa aksi kemanusiaan itu sangat-sangat diperlukan, tidak melulu oleh sebuah komunitas saja, tapi aksi kemanusiaan pun bisa dimulai oleh diri sendiri untuk hal-hal yang ada disekitar bahkan didepan mata kita.

Tidak ada alasan untuk tidak membantu mereka. Meski musibah ini kerap terjadi setiap tahunnya, tetapi mereka yang menjadi korban banjir tak henti-hentinya membutuhkan uluran tangan kita yang diberi kenikmatan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Bahu-membahu saling menolong itu yang utama, terlebih ketika ada musibah yang menimpa kita. Saya tersadarkan, ketika memiliki harta yang lebih, kenapa tidak kita bantu mereka yang membutuhkan? Ketika kita sehat, kenapa tidak kita bantu mereka dengan tenaga kita? Dengan mengunjungi tempat itu, menambah pengalaman saya, menambah kesadaran diri Saya akan rasa kemanusiaan.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau mengingatkan Saya untuk bisa ikut aksi kegiatan sosial yang penuh dengan hikmah ini. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dan dalam ridho-Nya.. Jazakumullah khayran katsiran.. 🤲🏻

Mudah-mudahan Allah menjadikan musibah ini bukan membuat kita lebih lalai dalam kesibukan di dunia, tetapi menjadikan semua ini adalah teguran untuk kita agar lebih dekat lagi kepada Allah Azza wa jalla. Aamiin

Yuk mari bergandengan tangan untuk lebih peduli terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Percayalah, sekeras apapun masalahnya, pasti akan lebih ringan jika berjalan beriringan 🙂

Salam Kemanusiaan,
Relawan Tendavisi Indonesia
Berkarya-Berbagi-Menginspirasi

Setitik Harapan Hidup untuk Pak Yayan

Setitik Harapan Hidup untuk Pak Yayan

Bismillah..
Pada pukul 06.00 pagi warga cicalengka menemukan sesosok lelaki tergeletak di pinggir ruas rel kereta api Cicalengka. Lelaki itu bernama Yayan Herdiana warga Rancamanyar, Kec. Beleendah, Kab. Bandung. Diduga Ia tertabrak kereta api. Warga pun membawanya ke RSUD Cicalengka dalam keadaan kritis. Setelah 2 hari dalam keadaan kritis, lalu Pak Yayan dirujuk ke RS di Bandung.

Dalam keadaan darurat, Ambulan Tevis dikerahkan agar pasien segera mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Namun, beberapa rumah sakit di Bandung kebanyakan ruangan penuh, maka Ambulan tevis melesat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan keyakinan mendapatkan ruangan dan fasilitas yang memadai.

Ayah dua anak ini, mengalami pendarahan di kepalanya, luka dalam di bagian dadanya, kedua kakinya patah, serta cedera di otak dan di tulang lehernya. Keadaanya yang tidak sadarkan diri selama berhari-hari cukup mengharukan keluarga. Ia adalah sesosok imam yang begitu penyayang terhadap keluarganya, enggan melihat sang istri merasakan letih dalam kesibukan rumah tangga.

Bayangkan saja, seorang suami yang setia membantu istrinya, menyayangi anak-anaknya, tiba-tiba keluarga mendapatkan kabar bahwa Pak Yayan mengalami kecelakaan tanpa ada penyebab pastinya.

Dalam keadaan panik istrinya sempat berencana untuk menjual ginjalnya demi bisa membiayai pengobatan Pak Yayan. Maka, banyak sekali relawan yang tergerak hatinya untuk membantu kasus Pak Yayan ini. Hingga akhirnya tevis diberi kesempatan juga untuk membantu dalam mobilitas dan advokasi pasien. Kita mengusahakan agar Pak Yayan bisa dirawat tanpa mengluarkan dana yang tidak sedikit.

Beberapa hari lamanya pasien masih tak sadarkan diri. Hingga pada suatu saat, istri menelpon anaknya yang sedang menunggu di rumah. Anak-anak itu memanggil-manggil ayahnya yang sedang terbaring lemah dalam ketidak sadaran, “Ayah.. bangun.. Ayah.. Bangun” Qadarullah Pak Yayan pun lalu sadarkan diri, bangun dari kondisinya yang kritis.

Alhamdulillah atas Izin Allah, kini Pak Yayan sudah berada di kediamannya. Dua bulan lalu, Ia dibolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah memungkinkan untuk pulang. Sekarang Pak Yayan masih dalam tahap pemulihan. Meski kakinya sulit untuk berjalan seperti sediakala dan ingatannya masih samar-samar, namun sang Istri tak pantang menyerah menyemangatinya.

Pak Yayan adalah salah satu penerima manfaat atas hadirnya Ambulan bebas biaya 24 jam. Bukan hanya pengantarannya saja yang kita bantu, tetapi Ia mendapatkan bantuan advokasi kesehatan juga dari Tim Siaga Ambulan yang mana kita mengikhtiarkan agar mendapatkan tanggungan dari negara, karena negara mempunyai anggaran tertentu untuk kesehatan masyarakat kurang mampu. Alhamdulillah Allah memberikan rizki kepada Pak Yayan, pembiayaan yang kisaran ratusan juta, dengan izin Allah Pak Yayan tanpa biaya.

Inilah yang menjadi sebuah bentuk semangat kita untuk aksi kemanusiaan. Mari ambil peran, sudah saatnya sahabat melangkah. Menjadi bagian untuk kebermanfaatan ummat. Sahabat bisa mendukung kami di program #Healthcare agar lebih banyak lagi kebermanfaatan yang dirasakan seperti Pak Yayan. Mudah-mudahan setiap putaran roda lesatan ambulan, bisa membawa pada keberkahan kita. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

Diki Kini Menjadi Anak yang Ceria dan Semangat

Diki Kini Menjadi Anak yang Ceria dan Semangat

Assalamualaikum kakak.

 

Pernah ga sih kak kebayang kalau kita bakal ditinggal cepat dalam kurun waktu yg entah kapan bisa ketemu lagi oleh orang yg paling disayang dan paling sayang sama kita? Ditinggal jauuuuh, dan entah kapan bisa ketemu lagi. Sakit rasanya.

 

Mungkin inilah yang dirasakan Diki, dulu. Saat usianya baru menginjak 8 tahun. Seseorang yg amat ia cintai, tempat ia bersandar mencurahkan segala kisah dan impiannya harus ‘pergi’ selamanya. Ialah sosok ayah, yg meninggal karena serangan jantung. Kelelahan setelah kerja bakti bersama warga dikampungnya.

 

Diki kecil saat itu sdh mengerti, bahwa ayah sudah tak bisa lagi menemani hari-harinya. Kini tinggallah Diki, Ibu, dan Adiknya. Semenjak itu, Diki yg ceria berubah menjadi lebih murung dan sensitif. Mudah menangis, mudah marah, mudah tersinggung. Mungkin itu adalah ungkapan kesedihan yg membekas dalam hatinya.

 

Tak selang berapa lama, ibu nya pun harus pergi sementara, bekerja ke negeri orang. Entah kapan pula kembali. Diki, kini tinggal bersama kami di Rumah Anak Bervisi. Diki bilang, ia ingin berusaha memperbaiki keadaan nya, menjaga adiknya, membahagiakan ibunya juga ayahnya ‘disana’. Diki ingin menjadi sosok yang lebih baik, agar bisa menjadi jariyah kebaikan bagi Ayah tercintanya.

 

Alhamdulillah, Diki tak merasa sepi lagi, meski kadang rindu datang mendekap, Diki paham, kini ada kakak-kakak yang senantiasa peduli pada kebaikannya.

Tevis bersama Kakak Dermawan, berusaha menemani langkah Diki menjadi pribadi yang lebih baik, membimbing nya untuk meraih impiannya mengangkat derajat keluarga.

Diki sudah bukan lagi menjadi anak yg murung dan mudah tersinggung. Diki kini lebih ceria dan terbuka mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

Alhamdulillah..

Aku Dan Anak Yatim

Aku Dan Anak Yatim

Perkenalkan namaku Luthfiana, 22 Tahun kurang 22 hari, seorang anak gadis dengan sejuta kesibukan dan sejuta cerita di hiruk pikuk kota bandung.

Berawal dari semua mimpiku sejak kecil, ingin menjadi seorang relawan, yang ku tahu hanyalah rela, rela melepaskan waktu, harta, tenaga, pikiran dan cinta. Secarik kertas berisi mimpi-mimpiku, perlahan satu persatu hanya kuanggap sekedar tulisan, bukan lagi tujuan. Dengan keterbatasan fisik, dan kemampuanku yang tak memungkinkan untuk turun menjadi relawan,  Sejak saat itulah aku mulai berlari dan terbang melayang tanpa henti mengejar  mimpi sebagai relawan dengan cara yang lain. Diawali dengan niat yg lurus karena Allah, dengan segala keterbatasan waktu, tenaga dan harta saat itu, maha besar Allah yang tidak pernah menempatkan aku dalam kondisi keterbatasan cinta.

 

Esoknya kutatap wajah salah satu anak yatim binaan Yayasan Tenda Visi, Diki namanya. sekilas tak ada yang berbeda dengan anak lainnya. Dia bermain, belajar, dan  tertawa seperti anak lainnya diluar sana. Ia memiliki cita-cita, keinginan, harapan di masa depan, sama sepertiku dulu. Namun terkadang iya berbalik bertanya pada dirinya sendiri “emangnya bisa?”

 

‘Mamih’ adalah hadiah pertama yang dia berikan untukku, sebuah panggilan sayang yang membuat aku luluh setiap kali mendengarnya.

“Ibu aku ga ada, ayah aku udah meninggal. Aku kalo ada apa-apa harus kesiapa ? “gapapa sayang, kan ada Allah yang selalu nemenin Diki” ku usap air matanya yang dari tadi sudah tumpah, beberapakali aku mencoba membalas keluh kesah dan keinginan Diki dengan kalimat yang bisa membuat iya bergantung pada Allah, bukan padaku, “tapi dari mana? Siapa yang mau nemenin aku? bantuin aku? tolongin aku? ga ada yang sayang sama aku, siapa yang sayang sama aku?” detik itu tak ku usap air matanya, karna air mataku lebih dulu jatuh sebelum ia menyelasaikan pertanyaannya. Hatiku menjerit, jangtungku berdebar. Suara anak yatim ini yang pertama kali mendobrak hatiku dengan kasar tanpa ampun.

 

Sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Semua kebutuhan dan keinginannya sama seperti waktu aku kecil dulu. Lalu siapa? Siapa? Siapa? Siapa yang Allah putuskan menjadi jalan Allah untuk merawat diki? Untuk memenuhi semuakebutuhan Diki. Yaa Allah, betapa bersyukurnya aku yang telah engkau siapkan orang tua dan saudara lengkap dengan harta yang cukup dan cinta yang berlebih.

 

Detik itu pula aku memohon kepada Allah untuk menetapkan hatiku dalam keistiqomahan, untuk menahanku agar tidak terbang mencari tempat singgah lain.

Allah memberikan kekuatan dan keberanian padaku untuk mengambil sebuah keputusan terbesar yang pernah aku buat. Sejak saat itu semua perioritas dalam hidupku berubah, segala kebijakan yang akan aku jalani selalu mempertimbangkan diki, makannya, sekolahnya, tidurnya, masa depannya, termasuk kebutuhan perasaannya.

 

Jika dulu saat aku seusianya, aku menggantungkan semua kebutuhanku pada Allah kemudian orang tua terutama ayah yang selalu mengorbankan hartanya untukku. Lalu pada Allah kemudian pada siapa Diki menggantungkan semua itu?

Ada kebutuhan yang ia perlukan meski ia tidak meminta

Ada keinginginan yang ia harapkan meski ia tidak mengatakan

Ada cinta yang ia rindukan meski ia terlihat tegar

 

Sejak Allah tetapkan hatiku untuk berkomitmen membersamai Diki hingga ia dewasa. Memiliki seorang anak yang sangat aku cintai meskipun aku belum menikah, tapi ia terlahir dari rasa cinta yang Allah genangkan dalam hatiku yang aku yakini Allah tak akan pernah menyurutkan sedikitpun. Aku percaya Allah akan pertemukan kami di syurga, mungkin saja ia yang akan menolongku di hari akhir nanti. Siapa yang tau? Siapa yang tau? Siapa yang tau betapa dahsyatnya do’a dari seorang anak yatim.

 

Sejak saat itu pula Allah mudahkan semua urusanku, beberapakali aku terkena musibah, namun Allah dengan cepat memulihkan keadaan setelah aku bercerita dengan Diki, harta yang aku keluarkan untuknya justru kembali lagi padaku dengan jumlah yanng lebih besar dari jalan yang berbeda. Ketenangan itu selalu aku rasakan setiap aku mengingat Allah kemudian diki. Mungkin saja do’a yang ia panjatkan sebelum tidur, terselip namaku. Karna itu menjadi bingkisan terindah yang selalu aku dapatkan disaat aku sempit dan terjatuh.

 

 

 

Persembahan Pisang untuk Adik-Adik Penghafal Al-Qur’an

Persembahan Pisang untuk Adik-Adik Penghafal Al-Qur’an

Bismillah
Disebuah bangunan indah, tampak suara riang yang sangat menenangkan. Waktu itu aku menemui mereka yang sedang belajar dalam menempuh indahnya meniti ilmu. Tak jarang adik-adik yang berlari menyapaku dengan salam dan senyuman.

Ini adalah sepenggal kisah saat memberikan amanah pisang untuk adik-adik para penghafal Al-Qur’an.

Di zaman teknologi yang semakin berkembang pesat, game-game yang semakin canggih fiturnya, tak banyak anak yang semangat dalam belajar, apalagi menghafalkan Al-Qur’an. Namun berbeda dengan mereka, adik kecil ini lebih memilih menyibukkan hari dalam mengilmui diri. Mereka adalah pejuang-pejuang cilik generasi.

Ini adalah Safitri dengan kemalu-maluannya yang hendak mengambil pisang, yang dibagikan oleh relawan Yayasan Tendavisi Indonesia. Dan satu lagi adalah Meisa, putri kecil yang imut dan juga santun. Meisa dengan enggan memakan pisangnya dikarenakan masih dalan posisi berdiri. Setelah Ia duduk, barulah Ia memakannya.

Pisang ini dipersembahkan untuk adik-adik yang semangat dalam menghafal dan belajar Al-Qur’an. Dengan harapan, bahwa buah syurga ini dapat mengantarkan semangat mereka dalam berjuang mencari ilmu agama.

Sehat-sehat ya, dik. Berjuanglah dalam memperoleh ilmu yang Ibu/Bapak guru sampaikan. Semangatlah meraihnya dengan semampu kalian. Jangan biarkan waktu kecilmu itu terbuang sia-sia agar tidak terbawa hanyut dalam kebodohan akhir zaman. Dan jangan lupa, tetap berbakti kepada orang tua.

Ini adalah salah dua adik-adik asuh MDT Muhammad Alfatih binaan Yayasan Tendavisi Indonesia dalam program #educare berkolaborasi dengan program #foodcare.

Dikisahkan oleh,
Pelajar Kemanusiaan

“Nak, Ibu Sudah Sembuh”

“Nak, Ibu Sudah Sembuh”

Bismillah
Nak, Ibu sudah sembuh. Sekarang Ibu disini, Nak. Sekarang Ibu bisa mengasuhmu tanpa harus mengkhawatirkan rasa sakit di badan Ibu, tanpa harus meninggalkanmu lagi. Ibu sudah sembuh, Nak“. Seperti itulah harapan yang ingin Ia sampaikan kepada anak tercintanya, yang mungkin saat ini sedang menunggu dengan kerinduan hangatnya pelukan sang Ibu.

Ibu Silvi adalah seorang wanita yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Ibu dua anak ini berasal dari Sukabumi yang harus dilarikan ke Bandung untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih memadai.

Berawal dari benjolan kecil sebesar 5 cm, Ia keluhkan sebelum menikah dengan sang suami. Silvi (22 tahun) sudah hampir 5 tahun Ia h berjuang melawan penyakit yang menyerang dibagian perutnya.

Meski begitu, Bu Silvi ini tetap tersenyum. Memberikan keteduhan sebagai rasa semangatnya untuk bisa sembuh. Karena baginya, ada orang-orang yang dicintainya yang selalu menanti berkumpul kembali. Merasakan indahnya tawa bersama.

Suami dan anaknya menjadi pengokoh keteguhannya untuk bisa sembuh. Di Sukabumi, ada dua anak yang masih kecil sedang menunggu kedatangan sang Ibu yang sedang berjuang menyembuhkan penyakitnya. Mereka pun saling menahan rindu, demi mendapati sang Ibu yang sedang mengikhtiarkan kesembuhannya.

Saat ini Bu Silvi sedang membutuhkan tempat tinggal dan kebutuhan lainnya selama Ia berobat jalan. Karena, rumah yang saat ini Ia dan keluarga singgahi, kondisinya cukup memprihatinkan. Baru-baru ini atap rumahnya mengalami roboh dikarenakan bangunan yang sudah lapuk dan tua. Bukan hanya itu, kondisi lingkungannya pun yang terancam banjir besar, sehingga membuat Bu Silvi merasakan ketidak tenangan.

Salam Kemanusiaan,
Yayasan Tendavisi Indonesia
Berkarya-Berbagi-Menginspirasi

Kisah Acep, Perjuangan Hidup Seorang Anak Tanpa Ibu

Kisah Acep, Perjuangan Hidup Seorang Anak Tanpa Ibu

Pada hari Rabu, hari pertama di tahun 2020 kemarin, di saat mayoritas orang-orang sedang menikmati liburan tahun barunya, Alhamdulillah tim tevis mendapatkan amanah dan kesempatan untuk bersilaturahim serta menemui langsung salah satu adik kami yang cukup istimewa. Ia adalah salah satu santri di Madrasah Sore yang berada di kawasan CIpancur, Sipatahunan, Kab. Bandung.

 

Kami mengenalnya melalui salahsatu tokoh masyarakat di kampung tersebut, sepenggal kisahnya yang luar biasa cukup membuat kami merasa terharu dan tersentuh, ingin segera menemuinya secara langsung.

 

Acep, 12 tahun. Kini ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Nama aslinya adalah Asep Saepulah. Qadarullah, Acep tidak pernah bertemu dengan ibunya karena beliau telah meninggal ketika melahirkannya. Setelah Ibunya meninggal, Acep dibesarkan oleh ayah dan neneknya dengan kondisi yang sangat terbatas. Menurut kabar yang kami dengar, para tetangga seringkali merasa iba ketika suara tangis bayi terdengar dari rumah yang teramat sederhana itu. Seorang bayi mungil yang dibesarkan tanpa ibu, bahkan tanpa susu formula. Bayi kecil itu, hanya diberi minum air tajin dan teh manis, kondisi perekonomian keluarga yang tak baik, memaksa ayah dan neneknya harus tega berbuat demikian.

 

 

Ayah acep adalah pekerja serabutan. Beliau kerapkali tidur di ladang atau kebun milik orang lain yang tengah memperkerjakannya, hidup nomaden dari saung ke saung untuk beristirahat. Hal inilah yang membuat Acep tak bisa ikut bersamanya. Alhamdulillah, selama ini Acep tidur bersama neneknya dan terkadang bersama tetangga yang memliki belas kasih terhadapnya, termasuk untuk uang jajan, Acep seringkali hanya berdiam diri ketika teman-teman sebayanya memburu pedagang yang datang, jika bukan ada tetangga yang berkenan membagi rizkinya, dia pun tak punya uang jajan.

 

 

Kondisi yang dialami acep sangat berat, sangat terlihat dari tatapan Acep ketika kami bertemu kemarin. Tatapannya kosong, tak seceria anak-anak yang lain. Hati kami teramat pilu, membayangkan betapa berat hidup yang ia jalani selama ini. ingin sekali kami berbagi kebahagiaan dengannya, melukiskan senyum agar ia bisa seceria teman-temannya yang lain, mengisi tatapannya yang kosong menjadi penuh harapan, sehingga ia bisa menjadi salah satu anak bangsa yang penuh semangat menjalani kehidupan.

 

Adakah kalian pun membersamai keinginan kami?

 

 

Aku Seorang Relawan

Aku Seorang Relawan

Bismillah..
Kenalkan namaku Rina Nur’aeni, saya penduduk Indonesia yang lahir di tanah sunda. Saat ini sedang menempuh pendidikan s2 jurusan pendidikan masyarakat. Doakan semoga ilmunya bisa bermanfaat.

 

Mimpiku sejak dulu adalah mengabdi di perbatasan Indonesia. Mendidik para penerus bangsa. Memberi semangat untuk mereka. Entahlah~ mungkin cintaku terlalu dalam pada negeri ini.

 

Tapi aku tak perlu jauh pergi ke pulau seberang. Ternyata di pulau yang katanya paling nyaman pun masih serba kekurangan.
Harapanku mungkin terlalu tinggi, berharap terjadi perubahan besar dengan perbuatanku yang terlalu kecil.

 

Aku pernah bertemu dengan anak-anak di beberapa desa di kabupaten bandung. Keterbatasan bukan lagi yang mereka keluhkan. Mereka hanya butuh bertemu orang baru. Semangat baru. Senyuman baru. Pengalaman baru. Karena mereka tak mampu pergi jauh melihat dunia.

 

Untuk memberi tidak harus dengan harta.
Untuk berbagi tidak harus menunggu kaya. Ternyata apa yang ada pada tubuh ini pun bisa kita berikan untuk mereka. Tangan ini bisa meraih. Kaki ini bisa melangkah. Otot ini bisa mengeluarkan tenaga. Mata ini bisa memancarkan semangat. Bibir ini bisa menunjukan senyuman.

 

Aku senang menjadi relawan. Bahagia. Sederhana. Penuh tantangan. Luar biasa. Sudah itu saja. Tak bisa terungkap lagi oleh kata. Tak mampu aku lukis lagi oleh rasa.

Apa yang aku dapatkan?
Coba pikirkan dan rasakan saja sendiri! Aku tak mau berbagi apa yang sudah aku dapatkan setelah menjadi relawan. Ini untukku. Aku sarankan, segera ambil bagian mu!

i’m volunteer.

I’m happy.

Marisa “Aku Ingin Menjadi Penghafal Al-Qur’an”

Marisa “Aku Ingin Menjadi Penghafal Al-Qur’an”

Marisa Futri, gadis lugu yg tengah beranjak remaja ini semakin hari kian bersemangat dalam menggapai impiannya. Mimpi besar yg amat berarti baginya, ialah menjadi seorang ustadzah yang Hafidzah.

 

Tak pernah terbesit sebelumnya dalam benak kami, jika Marisa akan memiliki semangat juang yang tinggi saat ini. Tepat satu tahun silam, kami mengenal Marisa dr salah seorang guru Al-Qur’an di Kampung Sompok, Katapang Kabupaten Bandung. Saat itu, Ustadz Mumu, gurunya Marisa memperkenalkan kami dengan sosok Marisa sebagai anak perempuan yatim yang tengah mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP.

 

Kami berkenalan dgn Marisa, melihat raport SD nya, bertanya tentang hobi dan kesehariannya. Tak banyak, Marisa memang gadis kecil yg pemalu dan pendiam.

 

Awalnya kami ragu, dari hasil belajar di Sekolah Dasar, Marisa mendapatkan peringkat kedua paling terakhir di kelas nya.

 

Marisa saat itu blm banyak terbuka dengan kami. Tapi kepada Guru mengaji nya Marisa banyak mengungkapkan keinginannya.

 

Marisa ingin belajar Al-Qur’an lebih dalam, ingin menghafal Al-Qur’an. Ingin meraih keutamaan menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Marisa ingin memberikan mahkota kemuliaan kelak di akhirat untuk ayah dan ibu.

 

Betapa saat itu hati kami tersentuh dengan cita-cita besar Marisa, apalah arti nilai di sekolah dibandingkan mimpi menjadi seorang Hafidzah. In syaa Allah saat akhirat dikejar, dunia pun akan berada digenggamannya.

 

Bersama guru mengaji Marisa, kami mencari sekolah Al-Qur’an yang baik untuk Marisa di Kabupaten Bandung. Hingga akhirnya kami menemukan salah satu Al-Qur’an Islamic Boarding School. Marisa senang, namun ujian pertama saat itu datang.

 

Keluarga Marisa, awalnya tak menginginkan Marisa untuk pesantren. Tak biasa jauh dari rumah alasannya, terlebih melihat biaya sekolahnya.

 

Namun bersama guru mengajinya, Marisa berhasil meyakinkan keluarga nya, bahwa Marisa siap berjuang meraih mimpinya, serta mengangkat derajat keluarga nya.

 

Saat itu lah, Allah semakin memudahkan langkah Marisa, kami dipertemukan dgn beberapa dermawan yang mau membantu, mendampingi, dan mensupport Marisa meraih mimpinya, maa syaa Allah. Akhirnya, dgn tekad bulat kami dan Marisa mendaftarkan Marisa ke sekolah, tak mudah, karena Marisa harus mengikuti tes masuk terlebih dulu. Alhamdulillah, atas izinNya, Marisa lulus dan berhasil menjadi santri di salah satu Islamic Boarding School ternama di Kabupaten Bandung.

 

Setahun berjalan, Marisa menunjukkan banyak perubahan. Perubahan besar!! Saat awal tahun pembagian hasil Raport, Marisa berhasil masuk 10 besar di kelas. Nilai nya meningkat, bukan hanya mata pelajaran umum saja, namun juga nilai adab keseharian dan hafalan Al-Qur’an.

 

Marisa betul-betul menunjukkan semangatnya dalam belajar. Impiannya tak hanya ia jadikan mimpi dalam bunga tidurnya, ia berproses meraih segala cita nya. Dan hingga kini Marisa masih terus berjuang :”)

 

Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah Marisa menggapai cita nya, dan melimpahkan keberkahan bagi seluruh kakak dermawan yang selalu mendampingi Marisa meraih mimpi-mimpinya. Aamiin

 

Kami percaya, kelak bukan hanya kedua orangtua kandungnya saja yg akan mendapatkan mahkota kemuliaan.

 

Kita semua, in syaa Allah, juga mendapatkan amal jariyah dari setiap perjuangan Marisa menghafalkan Al-Qur’an.